Luruh Menyentuh Dasar Nurani (Untuk Para Korban Longsor)

Retakan-retakan kokoh itu
Laksana simpul-simpul yang mengendur
Terlepas meluruh menyentuh dasar nurani…
Merubah tarikan nafas lapang menjadi desah
Mengiring tangis pilu rasa sakit, dan kata pisah

Luluh lantak menara menara kebanggaan,
Mengeringkan peluh dalam sekejap
Dan memupus persemaian harap

Dalam hitungan detik dan menit
yang tak bisa kusebut waktu
Retakan2 kokoh itu mengendur ,
meluruh , menyentuh, menyapu tanpa ragu

Merebah kerana titah,
memaksa bangunkan kesadaran jiwa
memuarakan do’a – do’a
dalam bingkai keikhlasan dan pasrah
pada akhirnya…

(untuk para korban longsor di manapun berada)

Iklan

Aki Tandan dan Siluman Buaya Putih

Ini adalah sebuah cerita mitos yang berasal dari daerah Brebes – Jawa Tengah,
Kisah ini menceritakan tentang seorang laki laki bernama Ki Tandan yang tinggal di desa Wanacala, sebuah desa di daerah Brebes, Desa Wanacala berada di sepanjang daerah aliran sungai pemali, Sungai Pemali adalah salah satu sungai besar di Jawa Tengah yang bermuara ke laut Jawa, sungai ini merupakan sungai alam yang berasal dari hulu sungai di desa Winduhaji – Paguyangan, Brebes bagian selatan.
Kisah ini bermula ketika Ki Tandan muda pergi ke sebuah kota , kota Slawi namanya, Ki Tandan berprofesi sebagai perajin pisau/parang dan golok. Setiap hari pasaran, Ki Tandan ke kota untuk menjual hasil karyanya, pada masa itu alat transportasi belum seperti sekarang, Ki Tandan mengendarai sepeda. Ketika hendak pulang , dia melihat dua orang anak kecil menangis, dan kebingungan. Lalu Ki Tandan menghampiri mereka dan bertanya, “kenapa menangis, dimana rumah kalian?’, dua anak kecil laki laki dan perempuan itu menjawab, bahwa mereka akan pulang ke daerah Wanacala. Lalu Ki Tandan menawarkan diri untuk mengantarkan mereka pulang karena satu tujuan,
Singkat cerita Ki Tandan memboncengkan dua orang anak kecil yang ditemuinya di Slawi tadi, dengan sepedanya. Saat memasuki desa Wanacala, Ki Tanda bertanya kepada dua orang anak itu, “Dimana rumah kalian?”, dua orang anak itu hanya menjawab, “di dekat jembatan kali (sungai) Pemali. Mereka minta diturunkan di dekat jembatan. Meski Ki Tandan agak heran mengingat didaerah dekat jembatan tidak ada perkampungan, tapi Ki Tandan menurunkan dua orang anak itu, dan segera melanjutkan perjalanan untuk segera sampe di rumahnya, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari jembatan tadi.
Hampir senja Ki Tandan sampai di rumahnya. Tengah malam, saat Ki Tandan hendak beristirahat, rumahnya diketuk oleh seseorang. Diluar gelap, sehingga Ki Tandan agak kesulitan mengenali tamu yang datang tengah malam, Ki Tandan mempersilahkan tamunya masuk, dan bertanya ada apa gerangan?, sang tamu yang bertubuh tinggi besar dan berwibawa, memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tamu Ki Tandan memperkenalkan diri sebagai siluman Buaya Putih penghuni sungai Pemali,sejenak Ki Tandan terkejut dan ketakutan. Tapi sang tamu, mengatakan untuk tidak takut, kedatangannya untuk menyampaikan terimakasih karena sudah mengantarkan 2 orang anaknya yang tersesat di Slawi siang tadi.
Ki Tandan baru menyadari, bahwa dua anak kecil yang diboncengnya dari Slawi tadi siang dan diturunkan di dekat jembatan sungai pemali itu ternyata buaya siluman.
“Ki, sebagai bentuk terimakasih saya kepada Ki Tandan, akan saya perintahkan kepada kaumku, untuk tidak mengganggu orang orang sekitar sungai pemali. Tidak akan ada yang tenggelam di sungai pemali”.
“Dan ini, terimalah, keris ini aku berikan kepada Ki Tandan, jika ada yang membutuhkan tenaga Ki Tandan, mencarika korban tenggelam di sungaim, gunakan keris ini sebagai penunjuk arah dimana korban tenggelam.

Sejak saat itu Ki Tandan banyak membantu menemukan korban tenggelam di sungai Pemali, namanya kemudian dikenal oleh banyak orang.

Tatap Nanar Mata Garuda

Tatap Nanar Mata Garuda

Menatap tajam mata garuda dari balik punggung negeri

Nanar memandangi  hijau hutan yang menghilang

Menyusuri  sungai yang mengalirkan sampah

 

Menatapi anak negeri berebut posisi

Memprovokasi dan saling menyakiti

Seperti tak ada jalan lain,

 

Kepak sayap ini tak lagi berarti,

Tajam tatap mata garuda nanar

Memandangi tingkah anak negeri

Dari balik punggung pertiwi

 

Kepak sayap ini tak lagi bermakna

Dalam kelelahan mengangkasa tanpa rasa

 

Helai pita yang terbentang di kaki garuda

Tak ada lagi yang membaca kata bhineka tunggal ika

RINDU KAMI

Wahai nabi segala nabi

Sesungguhnya, dalam dirimu

Ada teladan bagi kami..

Yang akan membawa kami pada kemuliaan

Dan menempatkan kami pada surga Tuhan

 

Meski panjang jarak waktu

Antaramu dan aku

Namun rindu-rindu dihati  ini

slalu tertuju padamu

 

Kurangkaikan bait-bait shalawat

Berharap kemuliaan syafaat

Darimu ..yaa..Muhammad

 

Pada maulid yang syahdu

Kami kenang lahirmu

Sebagai penerang jalan kami

Menjadi muslim sejati

Muliamu Adalah Mulia Untukku

Sia-sia langkahku
Meski berlimpah keberuntunganku
Karena kulupakan mu
Hadirmu nyata, ucapanmu do’a
Dalam diam dan sujudmu…
Dalam tengadahmu kau baluri aku mantra-mantra asa
Meski beban berat dipundak
Tapi engkau tak hendak mengelak
Membasuh perih sayatan luka
Demi harapan kehidupanku menjadi mulia
Tangismu dan kesengsaraanmu
Hanya dapat terhapus dengan memuliakanmu
Karena itu berarti kemuliaanku pula
Tuhan…
Jangan biarkan karena sombongku
Kau hilangkan kesadaranku
Jangan biarkan karena serakahku
Cinta Ibu menjauh dariku
Beri hamba kesempatan agar dapat memuliakanya selalu

Salam hormat pada alam

Salam hormat aku sampaikan
pada angin yang bertiup teramat kencang,
pada air dan hujan yang datang bersamaan
pada laut yang geloranya teramat bersemangat

dan tanpa mengurangi hormatku
atas sabda Tuhan kepada mu
maka kuminta pengertianmu tuan.

Bertiuplah sekedar mengingatkan
jangan menghancurkan
Menderaslah sekadar membasahkan
Jangan memporandakan
Gelorakanlah sekedar menunjukan keagungan
Jangan menghempaskan

Meski kami sadar, karena…
Seringkali kami tak cukup dengan itu

Salam hormat aku sampaikan
Pada angin, pada air, pada laut

Demi Cintaku Kepada-Mu

Demi cinta….
Telah kukendalikan jiwaku
untuk datang menemui-Mu, Tuhan

Telah kusediakan waktuku kini
untuk selalu dekat …
dan melafalkan mantra-mantra cinta
syair-syair pujian

Rabbi….cinta yang terindah
adalah mencintai-Mu
Karena cinta yang aku rasakan
Adalah sebuah cinta yang membawa
kepada kebajikan
kedamaian
dan hanyutnya perasaan

Demi cintaku kepada-Mu
Telah kusaksikan rahmat-Mu
dan segala kemurahan-Mu
bumi yang terhampar sebagaimana titah
Angin berhembus menyebar
Bagaskara pergi dan datang
seolah tiada bosan

Rabbi…karena cintaku ini
Izinkan hamba bermimpi
Dan menyeret serta angan hamba

Dimana hamba berada dalam kenikmatan
Dan kehidupan yang tiada mungkin berakhir
Berada dalam surga abadi
Yang dijaga oleh para malaikat
Yang tidak mungkin binasa.

Demi cintaku
Bimbing tanganku
agar selalu dapat merasakan
Indahnya ridho dari-Mu